FIG. 11.6 & 11.7
Operational Amplifier, atau yang lebih dikenal dengan Op-Amp, adalah salah satu komponen elektronika analog
yang sangat penting dan banyak digunakan dalam berbagai rangkaian elektronik.
Op-Amp merupakan penguat tegangan dengan tingkat penguatan yang sangat tinggi
dan memiliki dua input (inverting dan non-inverting) serta satu output.
Pada awalnya, Op-Amp dirancang untuk melakukan
operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, integrasi, dan
diferensiasi dalam sistem analog komputer. Namun, dalam perkembangan
selanjutnya, Op-Amp banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti penguat sinyal, filter aktif, komparator, osilator, dan konverter analog-ke-digital (ADC) serta digital-ke-analog (DAC).
Karakteristik utama dari Op-Amp ideal meliputi:
·
Penguatan tegangan tak terbatas
·
Impedansi input sangat tinggi
·
Impedansi output sangat rendah
·
Bandwidth tak terbatas
·
Nol tegangan offset
Namun, dalam praktiknya, Op-Amp nyata memiliki
keterbatasan fisik yang membuatnya berbeda dari model ideal. Meski begitu,
sifat-sifatnya tetap cukup baik untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar
aplikasi elektronik.
- Menjelaskan cara kerja
penguatan bertahap pada rangkaian op-amp.
- Menghitung penguatan total
dengan mengalikan penguatan tiap tahap.
- Memahami pengaruh resistor pada
penguatan masing-masing tahap.
- Voltmeter
- Sumber AC
- Resistor
- Ground
- Op-amp
Ketika beberapa tahap penguatan dihubungkan secara seri, penguatan keseluruhan dari rangkaian adalah hasil kali dari penguatan masing-masing tahap. Setiap tahap dapat berupa konfigurasi non-inverting atau inverting, dengan rumus penguatan sebagai berikut:
Tahap Non-Inverting:
Tahap Inverting:
Penguatan total () adalah hasil perkalian penguatan masing-masing tahap:
Rangkaian bertahap ini menghasilkan penguatan non-inverting keseluruhan jika jumlah tahap inverting genap. Setiap tahap memungkinkan kontrol penguatan dengan memilih nilai resistor, memberikan fleksibilitas dalam desain.
Op-amp ideal seharusnya menghasilkan output nol jika kedua input (inverting dan non-inverting) bernilai sama. Namun pada kenyataannya, karena ketidaksempurnaan internal, diperlukan sedikit perbedaan tegangan agar output = 0. Ini disebut offset tegangan input.
Dampak:
-
Menyebabkan kesalahan pada penguat DC atau integrator presisi.
-
Sinyal kecil jadi melenceng karena ada error tegangan tetap di output.
Op-amp tidak bisa mengubah tegangan keluarannya secara instan. Kecepatan maksimum perubahan tegangan output per waktu disebut slew rate. Jika sinyal input terlalu cepat berubah, output akan "tertinggal".
Dampak:
-
Distorsi pada sinyal audio atau sinyal gelombang tinggi.
-
Gagal mengikuti bentuk sinyal input pada frekuensi tinggi.
Op-amp nyata bisa terpengaruh oleh variasi tegangan catu daya, apalagi kalau PSRR (Power Supply Rejection Ratio)-nya rendah.
Dampak:
-
Tegangan noise dari power supply bisa muncul di output.
-
Ketidakstabilan output meskipun input tetap.
1. Sebuah rangkaian op-amp inverting memiliki resistor input dan resistor feedback . Jika tegangan input
a. 5 v c. 15 v
b. 10 v d. -5 v
Jawaban:d
Gunakan rumus inverting amplifier:
2. Sebuah op-amp non-inverting dengan R
dan . Jika , tentukan .
a. -4v c. 10v
b. 4v d. 10kv
Jawaban:b
Gunakan rumus non-inverting amplifier:
3. Diberikan sebuah rangkaian integrator dengan R
, , dan sinyal input berupa tegangan DC konstan . Hitung bentuk umum .
a. -10000t(V) c. -1000t(V)
b. 10kv d. salah semua
Jawaban:c
Rumus integrator:





Komentar
Posting Komentar